Flooding, History Repeated

Posted by

Don`t complain when Jakarta is flooding. Let’ s have a look at Kota Tua; flood is happening since the colonial era. Do you know the first recording of flood in Jakarta was already in 1699? When the Cilliwung river flooded Batavia after eruption of mount Salak. It has become a part of history that is repeated. Though, flood that happens in Kota Tua is a bit difficult to handle, why? Because Kota Tua is located in low land.

Old Town is an unique area with a lot of potential. To revitalise the area, we need to keep and restore the old historic buildings and protect them. Especially from flood threat. In 1905 for the first time revitalisation to Kota Tua was done by Local Government Board (DPRD), and almost 90% of the area consisted of buildings from the 20th century.

It is a pleasure to have the government who puts their effort to keep the buildings in Kota Tua, but it is so often executed based on order solely. Let me explain; For several times, I witnessed road constructions to make the road higher, but then it made old buildings position become under the road construction; flood attacked. It would be better to revitalise Kota Tua in all layers in government structure.

Only additional road layer construction to make it higher is dangerous, don`t make the wrong assumption; it has to be part of the total revitalisation. The right approach is revitalisation based on preservation. Until that happens I always worry every time flood attacks.

Obstruction, Water and Flood

Obstruction does happen when it`s flooding in Jakarta, as the flood in the city doesn’t only contain water, but a lot of waste too! Many people consider that water is a pollutant element, but actually it`s the waste that causes the water to be polluted. You know, when the trash takes up all the space in the river, in the rainy season water rises up, there is no more space to flow because of all the waste and then you get floods.

Water and waste mixes and flows through the streets. I do believe that we can reduce flood risks if Jakarta`s local government does water projects on to educate and inform on how to discard waste properly and with certain sanctions for not following the rules.
Well, flood might be hard to stop, but at least we should try to reduce it, why not?
So, let`s take some real actions!”

Who Candrian Attahiyat
Occupation Archeologist
Company former head of the cultural heritage conservation unit of 
Old Town management agency
Location Jakarta

Banjir adalah Sejarah yang Berulang

Jangan mengeluh kalau Jakarta kebanjiran. Lihat Kota Tua; banjir sudah terjadi disana sejak jaman kolonial. Tahukah Anda kalau banjir pertama kali terdokumentasi di Jakarta itu terjadi pada tahun 1699? Saat itu air sungai Ciliwung membanjiri Batavia setelah meletusnya gunung Salak. Sudah seperti sejarah yang berulang memang. Walaupun, banjir yang terjadi di Kota Tua menjadi sulit ditangani karena berada di dataran rendah.

Kota Tua sebenarnya adalah sebuah area unik yang punya banyak sekali potensi. Untuk merevitalisasinya kita mesti terus menjaga dan merestorasi bangunan-bangunan tua yang bersejarah juga melindunginya, termasuk dari ancaman banjir. Di tahun 1905, revitalisasi Kota Tua yang pertama kali dilakukan oleh DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dan hampir 90% dari area tersebut merupakan bangunan dari abad ke 20.

Saya sangat senang karena pemerintah sudah berusaha untuk membantu menjaga bangunan Kota Tua, namun seringkali dijalankan atas perintah semata-mata. Akan lebih baik jika keinginan revitalisasi Kota Tua menjadi visi semua lapisan anggota pemerintah hingga ke akar-akarnya. Beberapa kali terjadi adanya proyek peninggian jalan yang sudah seperti lapis legit, berkali-kali. Memang jalan jadi tidak banjir, namun posisi bangunan tua jadi berada di bawah permukaan jalan sehingga terkena banjir. “Peninggian sebuah lapisan jalan itu membahayakan, jika diterjemahkan sebagai bagian dari revitalisasi jangan sampai keliru. Yang benar adalah revitalisasi berdasarkan kelestarian”, ujar Candrian Attahiyat yang khawatir setiap Kota Tua terkena banjir.

Sumbatan, Air dan Banjir

Sumbatan terjadi ketika Jakarta mengalami banjir, dimana banjir di kota ini tidak hanya berisi air, namun terdapat banyak sampah juga! Banyak orang yang menganggap air merupakan suatu elemen penyebab polusi, namun sebenarnya sampahnya lah yang menyebabkan air jadi terkena polusi. Anda tahu, saat sampah terdapat di sepanjang sungai, saat musim hujan air naik, maka tidak adanya ruang lagi untuk mengalir karena semua sampah tersebut dan kemudian Anda mengalami banjir. Air dan sampah bercampur dan mengalir di sepanjang jalan-jalan.

Saya percaya bahwa kita bisa mengurangi resiko banjir jika Pemda Jakarta melakukan berbagai proyek air yang dapat mengedukasi dan menginformasikan bagaimana cara untuk membuang sampah yang benar dan berikut dengan sanksi tertentu apabila tidak mematuhi aturan. Banjir mungkin sulit untuk dihentikan, namun setidaknya kita harus mencoba untuk menguranginya, kenapa tidak?
Maka, mari kita lakukan berbagai tindakan nyata!

Siapa Candrian Attahiyat
Pekerjaan Arkeolog
Pengalaman Ahli konservasi Kota Tua
Tinggal di Jakarta

Anisa Kirana | 2015 – 2016 | Written for Utarakan Jakarta | Published on utarakanjakarta.com | Photo credit: Cynthia Boll

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s