Pieces circa 2003 – 2006

Posted by

 

Jiwa ini Dilanda Asmara
Bagaikan ombak yang dahsyat, menimbulkan suara gemuruh di pinggir pantai
Bagaikan gelombang tsunami, menghancurkan segala yang ada di permukaan
Bagaikan gempa bumi, menggoyahkan fisik ini
Layaknya kembang api, meriuhkan suasana langit, menyenangkan hati manusia
Layaknya musik romantis, mengalun, membuat pikiran ini terus mengkhayal
Semakin dipikirkan, seperti serangan jantung yang tak memiliki ujung
Semakin diharapkan, seperti pasien rumah sakit jiwa
Terus tersenyum, semakin dikhayalkan
Seperti tidak ingin bangun dari alam mimpi

17 October, 2003
Pondok Indah, Jakarta - Indonesia

 

Sesuatu
Seorang insan bertanya tentang hal ini. Kemudian aku menjawab
bahwa hal ini datang dengan sendirinya
Tak tahu dari mana asalnya, hanya seperti angin yang tertahan
Dan ketika hal ini berlalu, ketika usai, maka hilanglah begitu saja
Terkadang, tanpa memberi pertanda
Seperti angin mengambilnya dari diri kita
Tetapi semua insan menyadari
Hal ini akan selalu bertahan, selalu tersimpan, membekas
Membekas di dalam hati yang paling dalam, sesuatu yang tak terlupakan
Sampai kapanpun

19 October, 2003
During a science class, SMU Cenderawasih I
Jakarta - Indonesia
Rintihan Hati Kehidupan
Ia dapat mendengar hentakan langkah kakinya. Keras, lantang, bergema
Ketika gang sempit itu dilewatinya. Gang sempit yang becek, 
bekas air hujan semalam. Kotor, berbau tidak sedap
Tikus-tikus pun gemar menetap diri di situ
Gang sempit yang menggambarkan kemelaratan, kemiskinan hidup manusia
Yang dipandang sebelah mata oleh kota ini
Maka gang menjijikan itu telah berlalu. Lepaslah ia dari pandangan yang hina
Hina bagi para penyombong jiwa. Komunitas yang merasa berderajat tinggi

Matanya melihat sebuah jalan besar
Di kanan dan di kirinya terdapat buah hasil korupsi
Ingin ia menghujani dunia dengan air mata, air mata kepedihan
Sungguh ironis.
Dewa dewi dunia yang bangga akan emas-emasnya
Berlaku pongah, menaikkan wajah iblisnya
Merendahkan budak-budak, menendang sampah-sampah
Dewa dewi yang merasa paling berharta

Dan hatinya semakin tersayat, emas-emas yang sesungguhnya bukan hak mereka
Mereka nikmati, demi keegoisannya. Berfoya-foyalah mereka
Suburlah kehidupannya
Maka menangislah para budak. Berjuanglah, kalian tidak hina
Dunia bukan hanya milik para penguasa. Namun milik kita bersama
Para sampah yang sesungguhnya juga manusia
Membanting tulang, bercucuran keringat
Menjilat tanah, menyantap tempe-tahu saja
Namun memiliki harga diri. Mereka tidak mencuri emas orang lain

Wahai dunia yang penuh kegilaan, maka pilihan berada di tanganmu
Apakah kamu ingin menjadi malaikat terhormat di mata manusia, 
namun tidak berharga di mata Tuhan?
Atau
Apakah kamu ingin menjadi seorang yang terinjak-injak di dunia, 
namun Tuhan akan memberimu kenikmatan di Surga?

19 December, 2003
School Hall, SMU Cenderawasih I 
Jakarta - Indonesia
Badai dalam Keheningan
Sunyi. Tak terdengar suara senada pun
Sepi. Tak ada yang tahu akan kehadirannya
Diantara kebisingan yang memekakkan telinga
Ketika otak dilelahkan dengan berbagai pikiran
Saat keramaian berlalu lalang di depan mata
Angin itu datang, secara diam-diam
Kedatangan yang tanpa disadari, telah cukup lama menunggu
Telah cukup haus untuk diisi dengan kasih
Dan telah begitu gersang untuk segera dialiri cairan raga
Tetap tak ada suara yang terdengar, tetap tak terusik oleh apapun
Arloji-arloji seakan berhenti. Hening. Tanpa suatu pertanda
Namun. Kehadirannya seperti badai
Badai yang mengungkapkan hasratnya dalam sebuah kesunyian

27 December, 2003
Pondok Pinang, Jakarta - Indonesia
Kasih Di Batas Pagar
Ada yang pernah berbisik untuk tidak menjamah bagian itu, 
karena Tuhan melarang. Namun ada sajak-sajak yang mengantarkan diriku 
pada tali dimana tergantung di sana, aku tak kuasa untuk melawannya
Tarikannya begitu kuat, kulit kepala ini serasa akan melayang ke udara, 
menggendong tubuh nan layu ke arah langit bertempat tinggal
Maka kutemui satu titik cahaya, jemarinya menari dan bersinar
Dengan hangat ia menyentuh lubuk cinta terdalam 
Membuka mata batinku bahwa gejolak datang dari daerah yang jauh,
dan tak dikenal. 
Mengenalkanku pada dunia yang semestinya tidak kutembus
Membuat diri ini sadar, aku masih berpijak kemana pun, 
kemana pun yang aku tidak yakin kebenarannya, 
namun telah membuatku terpeleset di jurang.
Dan ketika terpukul, 
aku memohon pada Tuhan agar aku diizinkan untuk bersama dewa nan tampan itu
Bukan untuk bermain api, 
karena aku hanya ingin memberi kasih di batas pagar.

Once upon a time, 2004
Jakarta - Indonesia
Ketika Sedang Menunggu
Terpojok di sebuah sudut. Mulut membisu. Tak ada yang dapat menjadi teman 
bicara. Dengan mata telanjang, Hanya memandang bangku dan meja, 
yang diam tak bernyawa.
Di arah yang berlawanan, ada seorang laki-laki berwajah rupawan.
Sedang asyik dengan dunianya sendiri, sesekali bola matanya tertangkap
Saling berpandangan, ternyata ia tidak berkonsentrasi.
Ia tidak hanya terpusat pada hal yang dilakukan. Ia mencuri pandang

Getirnya terasa. Derasnya luapan emosi jiwa
Sulitnya menahan jantung yang kian berdegup
Tetapi keadaan tidak mendukung, tertutup kesempatan untuk lebih mengenal
Maka, hanya mata yang berbicara, dan hanya hati yang merasakan

Hingga datang waktu, yang mengharuskan diriku meninggalkan tempat itu

20 January, 2004
Bapindo Plaza-Citibank Tower, Jakarta – Indonesia
Hasrat
Begitu ingin aku melompat, namun tak kuasa kaki ini bergoyang
Hasratku untuk berteriak, namun bibir ini tiba-tiba terkunci
Sejuta harapan untuk menggapainya, namun tangan ini menjadi pincang
Mata indah memandang, menangkap sebuah sinar
Menyeret jiwa ke dalam sandaran
Gejolak emosi, gelombang hati
Mendesir lewat telinga

21 May, 2004
Cipete Selatan, Jakarta - Indonesia

 

Drama Dalam Tidur
Ada suara-suara dari surau, ketika ruh sudah menyatu kembali ke dalam tubuh
Semilir udara pagi hari buta, membuat diri bertahan di dalam rajutan benang
Ada suara-suara dari hati, saat benak kembali pada dongeng bawah sadar
Kisah bisu tanpa pencerahan, misteri dibalik alam sesungguhnya
Ada lukisan-lukisan dari bayangan, memancarkan kegalauan,
tentang seorang manusia
Memaksa untuk bernapas tanpa topeng

22 May, 2004
II-3 Class Room, SMU Cenderawasih I
Jakarta - Indonesia
Sejuta Kilometer Tersembunyi
Dia berada di sudut biru. Aku berdiam di sudut merah
Namun kami bukan petinju yang akan bertarung di gelar tinju nasional
Dia mencariku dari muka bumi. Aku mengintipnya dari atas langit
Tetapi untuk turun dari kahyangan, aku tak berani
Burung merpati menyampaikan nadanya, kubalas dengan alunan biola
Dan ketika air laut mulai surut
Berharap semoga ini bukan hanya kekosongan tak bermakna

4 June, 2004
Jakarta - Indonesia
Berawal Dari Huruf T
Tidak setiap hari lalat berterbangan di depan wajah
Tidak selalu jemari dapat meraih sentuhan itu
Tidak terkira ada bunga bangkai yang harum
Terus berkembang dengan kasih
Telah 8.640 jam hentakan lonceng berdentum sangat dalam
Terus menyiksa koklea hingga ubun-ubun
Tetapi tidak menyesatkan organ dalam lainnya
Terus, dan semakin berlanjut
Tetap berhenti di penghujung saraf
Terdapat bingkai yang menghiasi sisi-sisi foto dirinya
Tak henti berlalu lintas pada jalan beraspal
T adalah kunci utama untuk identitasnya

6 June, 2004
Jakarta - Indonesia
Tentang Jantan dan Betina
Kereta itu datang menawarkan diri
Membawaku ke tempat dimana seharusnya kuberpijak
Saat ada sebuah gubuk yang berkilauan, kami berdua menghentikan wisata itu
Sepatah kata hingga menjadi gurau, seakan waktu tidak melanjutkan detiknya
Jantan tak sengaja lewat menggunakan sayap yang beroda
Hancur kepingan logam, saat melihat betina ada bersama jantan
Mereka tampil layaknya Charles dan Camila
Aku hanya termangu, memandang jantan yang membelah hatiku
Bermesraan dengan betina, dia pun terpaku
Menerima bahwa betina telah bersama jantan

13 August, 2004
At a small coffee shop,
South Jakarta – Indonesia
Sore dan Setelahnya
Ada sepotong sore yang didamba, untuk mengejar bentuk pada wujud bayangan
Semua terjadi karena dua tanda tangan, untuk bertemu pada sore yang indah
Keadaan itu bukan tanpa alasan, dua insan menginginkan satu kualitas
Agar si tua menyaksikan kebolehan kami, 
dan mengakui bahwa kami pantas dihargai
Sore itu berlalu, kisah itu usai
Namun tiba-tiba mendarat legenda lain
Ketika anak tangga yang panjang dituruni
Hantu nan tampan itu mengikutiku
Berkata tentang kekhawatirannya pada tubuh yang ringkih
Membisu bahwa ia ingin sebuah kepedulian
Mengapa ia harus memohon angan padaku?
Dimana dewa dewi berputar di lingkarannya
Mengapa ia memaksa bersatu denganku?
Ketika ia tetap tak berpidato dengan jelas

2 December, 2004
After running over stairs in a high building
Jakarta – Indonesia
Cahaya Dalam Teropong Cinta Bumi
Jika engkau ingin memelukku, 
maka tanyalah pada atmosfir tentang eksistensiku
Apakah aku layak untuk dicintai? 
oleh mereka yang selama perjalanan udara selalu menatapku 
dengan sebelah mata. Seharusnya itu tidak pantas
Karena anak-anak Hawa berdiri tegak dihadapan pondasi kokoh 
yang berada seratus delapan puluh derajat dari matahari
Dengan cahaya terang menembus ventilasi duniaku, 
maka kehadirannya telah membekas di kulit
Seorang figur dengan emas di genggaman dan sutra di kepala
Yang bermimpi untuk mencuri kelamin Maryam, 
untuk dicampur dengan bubur Manado
Hingga khalayak mengagungkan kesaktian dirinya
Tapi aku tidak mencari pepatah itu
Aku hanya ingin bumi kembali pada pangkuan Aphrodite agar kharismanya 
kembali. Kemudian bersandar pada posisi yang awal.
Aku tak ingin klimaks. Hanya ingin agar jemari-jemari lembut meraba 
kasarnya atap. Untuk dikabarkan pada manusia pembawa kayu 
bahwa lubang-lubang telah siap untuk disakiti
Agar aib manusia lain tertutup, 
maka berjabatlah dengan awan di langit sebelum logika meminta 
untuk mencintai diriku. Manusia yang penuh hina, 
namun malaikat Jibril telah meminta untuk menggantikan tugasnya
Menyampaikan wahyu. Memberi sinyal segar pada hijau 
untuk merapikan tanah-tanah yang ada
Karena aku akan segera lompat dari kahyangan hitam
Untuk bertemu makhluk paling naif yang sedang asyik melukis cinta 
di atas kanvas

2004
Kemang, Jakarta – Indonesia.
Salju dan Kemarau Bagi Angan dan Impian
Aku tahu bahwa mereka akan berjalan melintasi waktu 
dan ketika jiwaku tertangkap oleh sinar-sinar hatinya, 
manusia tanpa pahala itu akan tertawa
Menyadari impian yang lama tersimpan hingga membusuk, 
hanyalah sebuah angan. Tetapi angan dan impian bukanlah dosa
Bukan dosa seperti yang mereka perbuat sepanjang hayat
Namun angan dan impian lahir karena hasrat
Hasrat yang mencairkan kasih dan cinta kepada sungai-sungai kering
Karena kemarau adalah iblis yang merenggut harapan dari tetes-tetesnya
Aku hanyalah insan biasa. Dengan noda pada semeter kain putih
Yang seputih salju murni. Yang selalu bertanam pada keyakinan hati
Hingga ada malaikat yang mengirimkan burung merpati pada aliran tinta
Dimana sebenarnya aku telah menyadari, 
bahwa legenda masa depan yang didongeng oleh leluhur 
akan menampakkan mutiaranya secara perlahan
Seperti ketika seorang penderita kanker mengikhlaskan helaian rambutnya 
terbang satu per satu
Apakah yang diinginkan hidup pada makhluk bernyawanya? 
jawaban hanya tersirat di tiap individu
Berjalan di ruas tol, tanpa hambatan. Tak kulihat tantangan
Namun semuanya hanya memiliki satu stasiun
Aku hanyalah makhluk ciptaan-NYA
Menuai kebahagiaan pada tapakan kalimat pengiring, 
agar suatu hari bulan dan bintang menghentikanku

2004
Kemang, Jakarta – Indonesia.
Halaman Pertama, Kunci Segalanya
Tidakkah dia sadar
Saat angin malam menyelimutiku
Aku tengah menunggunya
Bersama benda-benda mati
Yang tak berperasaan
Dan ketika cahayanya terlihat palsu
Udara pagi membisikkanku
Untuk segera pergi dan berlari
Mencari rangkaian kata berikutnya

2004
Jakarta - Indonesia
Berlayar di Atas Ambang
Aku terjebak di kandang macan
Kandang macan yang tidak menakutkan
Aku tak dapat melarikan diri
Dan aku memang tidak menginginkannya

2004
Jakarta - Indonesia
Rahasia
Biarkan khalayak dijauhkan dari kebenaran
Agar aku bisa terus menikmati semua ini
Tatapanmu yang menstimulasi otakku
Hanya aku yang tahu maksudnya

2004
Jakarta - Indonesia
Aku Ingin Membunuh Hatiku
Aku telah sampai pada puncak itu
Puncak di mana aku tak dapat membunuh emosiku
Aku terlanjur membanjiri hati dengan hujan
Hujan yang sejak kemarin ingin kulemparkan
Keyakinanku bulat. Aku tak menggoreskan sayat padanya
Keyakinanku penuh. Ia tak berintepretasi pada jalur yang salah
Hanya saja, aku terus membunuh jiwaku dengan panah-panah cinta
Terus-menerus, aku ingin membunuh pikiran dangkal yang dimuati ombak
Tanpa gelombang yang menyapaku, aku ingin membunuh hatiku

15 December, 2005
Jakarta - Indonesia
Memetik Harapan
Alunan suara tak berarti
Desiran angin tak berasa
Mata tergantung tak bernapas
Gadis itu terus termangu
Menghadapi kenyataan
Pria itu tak tergugah
Logika menguasainya
Gadis itu memetik harapan
Pria itu tetap tak berperasaan

19 December, 2005
Jakarta - Indonesia
Journey
Sambil menoleh pada bingkai terdahulu, ada kesan seindah kahyangan
Sambil terkulai tanpa daya, seribu senyum, sejuta cahaya
Dengan ironi, tanpa makna tersirat
Sambil menapaki hari-hari, ada guratan sedalam perut bumi
Sambil mencoba mengerti
Tersenyum, jikalau ingin
Diberi cahaya, jika logika mengizinkan
Dengan fakta, bahwa maknanya mengiringi waktu

19 December, 2005
Margonda Raya, Depok – Indonesia
Titik Temu Di mana?
Berada dalam satu lingkaran, tanpa bersua. Hanya suara untuk masing-masing
Tawa dan canda yang tak berhubungan. Namun, lupakanlah
Sudah berlalu, empat tahun yang lalu
Hiruk pikuk dalam keramaian yang sama
Bahu dan bahu yang saling melewati
Walau bola mata berpandang, namun, sangat tak berarti
Siapakah dirinya ketika itu?
Hanya kisah usang yang sulit diingat kembali
Siapakah dirinya ketika itu?
Bagaimana ia berperilaku saat itu?
Apakah yang kupikirkan ketika itu?
Bagaimana aku menyikapi peristiwa saat itu?
Karena ketika itu, ada kupu-kupu itu
Kupu-kupu yang tidak bisa bersikap layaknya manusia
Kupu-kupu yang selalu bertengger pada puncak
Kupu-kupu yang sengaja memisahkan dua senyum yang akan bersatu
Mengapa dirinya tidak bergerak maju?
Apakah dirinya memang sedingin hujan salju?
Mengapa aku tidak mengambil sikap?
Apakah benar aku, bahwasanya, seorang patung bernyawa?
Karena pernah tersudut, karena merasa benci tersudut, 
karena tidak ingin tersudut lagi, hingga aku tidak 
dan tidak akan pernah tersudut lagi
Hingga, cahayanya menyapa bumiku dan isinya….
Namun, cahayanya dimiliki oleh aliran listrik
Dan aku.. Isi bumiku dimiliki oleh penghuninya!
Bagaimana cahaya? Bagaimana bumi dan isinya?
Apakah suatu hari cahaya berkenan menyinari bumi serta isinya?
Di mana? Di mana titik temu yang kami inginkan?

26 December, 2005
Jakarta - Indonesia
Mendambanya
Kucetak sejarah – enam bulan lalu, saat bersebelahan – berdampingan,
walau tak sepatah kata pun kuucapkan padanya
Dia membuat sejarah – sejak saat yang sama, saat bersebelahan berdampingan
walau ia hanya tersenyum dan mencuri pandanganku
Pandangan yang berarti selama enam bulan
Matanya yang berbicara sejuta kata
Mataku yang – sejujurnya – memberinya cahaya harapan
Hari ini, sebagai awal sejarah baru
Ada senyum dari wajah yang penuh pesona
Ada semangat baru untuk tetap mendambanya

23 February, 2006
Jakarta - Indonesia
Sakit Jiwa
Aku menyempurnakan diri pada sebuah titik khayal
Ketika aku sadar bahwa dunia tidak serumit itu dan tidak sesederhana ini
Dunia mengandung banyak makna yang tidak manusia sadari
Maka kenapa tidak ada yang bernasib seperti ini?
Mengidap penyakit jiwa
Penyakit jiwa yang mendalami kisah dibelakang kehidupan dunia
Penyakit jiwa yang bermata hati dan tak usai berdetak, 
demi pengabdiannya pada keindahan, seindah dunia dibelakang kepalaku
Alunan nada yang tidak mereka dengar
Rotasi yang tidak memengaruhi bumi, bulan ataupun matahari
Bahasa-bahasa yang hanya aku mengerti seorang diri
Aku yakin akan desiran pada telinga ini
Aku sadar betul bahwa khayal ini adalah sebuah kehidupan
Karena nafasnya terasa begitu dekat dengan bibirku
Titik khayal telah menggambarkan sisi lain dunia
Dengan kemolekan wajahnya serta kejernihan alirannya
Bukan sekedar fatamorgana tak bernilai

27 April, 2006
Jakarta - Indonesia
Mereka, tentang Cinta
Apa yang mereka pikirkan tentang hidup di dunia ini?
Apa mereka selalu yakin bahwa cinta selalu hadir dalam bentuk yang konkrit?
Tidakkah mereka menyadari, ketika hembusan nafasnya menarik air mukaku,
ada desiran yang datang, menjemput anganku dan mengutarakan fakta 
dalam kerahasiaan
Tanpa perlu diketahui oeh mereka yang berkeyakinan, 
karena apa yang sebenarnya mereka yakinkan?
Apa mereka yakin bahwa cinta diperuntukkan bagi mereka?
Tidak! hal itu merupakan kepalsuan dari sebuah logika
Maka manusia yang hina, berteriaklah untuk jiwamu
“Dia hanyalah milik hatimu”
Ingatlah pada kepingan-kepingan kasih yang ia persembahkan
Bukan untuk orang lain. Tapi hanya untukmu

9 July, 2006
Jakarta - Indonesia
Desiran Cuaca
Pelangi itu bagaikan gemercik api. Ada suasana hangat memanas
Ada emosi terluap tanpa kendali
Matahari itu bagaikan tetesan hujan. Ada derasnya air terjun di hati
Ada degup jantung yang segera berhenti
Rembulan itu secerah langit di siang hari
Ada getaran yang dimulai sejak zaman purba
Ada kiasan dari jiwa yang tersenyum
Segala sesuatu. Seperti halilintar
Mengajak naik. Membawa turun

24 December, 2005
Room G242, Universitas Gunadarma
Depok – Indonesia
Angka-Angka
Itu hanyalah sebuah buku tua yang baru ditemukan
Buku tua yang memberi pedoman tentang angka-angka
Angka-angka yang menelusuri sejarah manusia dan namanya
Manusia dan namanya yang melahirkan angka-angka
Angka-angka demi kehidupan kasihnya

Angka-angka yang terus mencoba pada para kekasih dan nama mereka
Angka-angka yang diharapkan akan berbuah baik
Namun angka-angka itu tak kuasa berbohong
Bukanlah angka-angka mujur bagi para kekasih untuk mendapatkan diriku

Angka-angka tak sengaja mengadu takdir dan nama seorang sahabat
Angka-angka yang tak terlalu diharapkan
Namun angka-angka itu tak kuasa berbohong
Bukanlah mustahil untuk kami bersatu

Karena angka tujuh sebagai jembatan menuju angka lima
Karena angka tujuh juga sebagai pintu kebersamaan
Karena angka tiga-delapan yang lahir kembar
Karena tujuh dan tiga-delapan, angka-angka cinta tanpa rekayasa

23:52 – 30 August, 2006
Jakarta - Indonesia
Sinonim-Antonim
Begitu banyak sinonim antara dia dan dirinya
Berusaha mencari antonimnya, namun sia-sia belaka
Dia adalah dirinya, dia adalah masa kini, dirinya adalah masa lalu
Namun dia dan dirinya seperti kembar siam
Yang terus saja menggugah prinsipku
Dia hadir mengisi hari-hari yang kini ada
Berharap aku mau meraih kata-katanya (yang nyatanya memang kudapatkan)
Bukan sinonim atau antonim
Hanya pertanyaan kejujuran mengenai hati yang ingin ia miliki
Aku pun melemparkan kata-kata. Bukan sinonim atau antonim
Hanya pertanyaan kejujuran mengenai siapa yang ingin ia miliki

15 September, 2006
Jakarta – Indonesia
Berbagi Cinta
Sebagai masa lalu, sebagai hari-hari kemarin
Sebagai kenangan, sebagai sejarah
Sebagai seseorang yang mungkin masih dicintai
Sebagai masa kini, sebagai hari-hari masa depan
Sebagai kisah cinta, sebagai cerita
Sebagai seseorang yang sedang dicintai
Dirinya, sebagaimana seekor kalajengking
Menancapkan tangannya ke berbagai arah melalui cinta
Diriku, sebagaimana seekor kepiting
Merasa tercabik-cabik olehnya dengan rasa cinta
Diri itu, sebagaimana seekor singa
Menginginkan cintanya terbagi untuk dikuasai

22 September, 2006
Kebayoran Baru, Jakarta - Indonesia
Tak kan
Dahulu, kau hanya tahu akan diriku, tidak mengenalku lebih dalam
Dan aku? hanya berjalan melewati wajahmu dengan angkuhnya, 
tanpa peduli akan sosokmu. Tak kan ada keinginan untuk mengenalmu

Setahun lamanya, kau mulai hadir dalam kehidupanku, 
mencoba mengenal diriku lebih dekat
Dan aku? hanya bersikap ramah tanpa ada maksud, 
karena dirimu hanyalah satu dari seribu pria yang bersikap ramah padaku
Tak akan ada hasrat untuk memikirkanmu

Akhir-akhir ini, kau benar-benar mengusik hidupku, 
menghujaniku dengan beribu cahaya harapan
Dengan janji bahwa kau akan meninggalkan kekasihmu
Dan aku? hanya memendam perasaan ini, 
tanpa berharap kau akan membalasnya secepat itu
Karena aku tak kan membiarkanmu meninggalkannya untuk diriku

13 November, 2006
Cimanggis – West Java, Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s